Gerimis di Senja Hari
Tok..tok…tok….
Terdengar suara pintu diketuk, namun tanpa ucapan salam.
Bergegas adek Bintang keluar…..tak lama berselang, si adek menghampiri bunda
yang lagi telponan sama Omcep.
“Enggak tau siapa Nda, bapak2”, ucap Bintang seperti
menyampaikan laporan setelah menerima si Bapak dan mempersilakannya untuk duduk
di teras.
Bergegas kupakai baju gamis dan jilbab panjang yang sengaja
kutarok di dekat pintu samping agar mudah untuk menutup aurat saat keluar ada
tamu ataupun saat keluar jika seandainya terjadi situasi darurat seperti gempa
bumi. Ya…gempa bumi. Daerah tempat tinggal kami yang berada di patahan sesar
mentawai sangat sering terjadi gempa bumi, jadi kami selalu harus siaga
bencana.
Saat pintu samping kubuka, dugaanku tidak meleset….Benar
yang datang adalah Bapak Aryo. Sudah lama bapak ini tak muncul, alhamdulillah
dia datang dalam keadaan sehat.
Segera kuakhiri percakapan telpon dengan adikku dengan
alasan ada tamu dan hari menjelang adzan maghrib.
“Apa kabar, Pak?” Sapaku..
“Baik bu, saya jalan kaki dari rumah berangkat jam 5 sore”
ucap si bapak sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Iya pak”, ucapku
halus seolah menolak salamannya.
“Aduh pak maaf ya, saya mau sholat maghrib dulu” tolakku
untuk mengusir si bapak secara halus. Namun terbersit dalam hati, kasihan
sekali bapak ini jalan kaki dari jam 5 sore jauh-jauh dari talang kering datang
ke sini masa kutolak mentah-mentah. Tapi saat kuingat kelakuan si bapak yang
beberapa waktu lalu telah membohongiku, rasanya mau langsung kuusir si bapak.
Kutinggalkan bapak yang duduk di teras, dengan HP yang masih
di genggaman, aku duduk di kursi dekat pintu samping.
“Saya numpang sholat di sini aja, bu” suara si bapak
mengagetkanku.
“Aduh pak maaf, suami saya sedang tidak ada di rumah?’
ucapku beralasan.
Masa – masa pandemi Covid-19 ini mengharuskan kita untuk
berhati-hati terhadap siapapun karena kita tidak tahu apakah seseorang membawa
virus atau berstatus OTG (orang tanpa gejala) apalagi si bapak datang tanpa
memakai masker.
Sejenak kuberpikir, alangkah tidak manusiawinya diriku
menolak si bapak untuk menunaikan kewajibannya. Namun aku juga keberatan untuk
memasukkan seorang laki-laki ke dalam rumah disaat suami tidak berada di rumah,
terlebih di masa pandemi. Mau kuanjurkan untuk ke masjid namun cuaca tidak
mendukung karena hujan baru saja mengguyur bumi.
“Ya sudah bu, saya qodho saja nanti dengan sholat Isya”.
Astaqfirullah Ya Allah, berilah hamba-Mu petunjuk, apakah
kubiarkan bapak ini menunggu di teras sampai hujan berhenti namun tidak
mengerjakan sholat maghrib atau kuizinkan bapak ini masuk ke rumah.
“Kalau bapak mau sholat, silakan di kamar belakang aja pak!”
Bergegas si bapak masuk. Kupersilakan untuk berwudhu di
luar, tidak kuizinkan untuk masuk ke kamar mandi karena anak-anak juga mau
berwudhu. Kubentangkan sajadah merah di kamar belakang.
Selama si bapak sholat, kupersiapkan cemilan dan air putih,
sengaja tak kubuatkan kopi karena aku ingin bapak ini segera pulang.
“Ini pak silakan minum dan ada cemilan, kalau bapak tidak
mau makan di sini dibawa pulang saja pak” usirku secara halus.
“Di rumah enggak ada yang makan, bu”
Sontak aku kaget, kupikir apa yang terjadi dengan istri si
bapak yang dia ceritakan sedang sakit beberapa waktu lalu.
“Cuma saya dan ibu yang di rumah, si Ani kuliah, Aryo kerja
bu” ucap bapak melanjutkan kalimatnya.
Lega hatiku mendengar bahwasannya si ibu baik-baik saja.
“Si Ani sudah kuliah ya pak?”
“Iya bu di sana di madrasah apa itu”
“Oh di STAIN ya pak?”
Ani dan Aryo adalah kakak beradik yang merupakan siswaku.
Keadaan ekonomi keluarga yang kurang menguntungkan ditambah dengan kedatangan Ani
ke sekolah yang sering terlambat,
membuat aku menaruh perhatian lebih terhadap dua kakak beradik ini.
Aryo sang kakak telah menamatkan sekolahnya terlebih dahulu.
Selama di sekolah Aryo banyak aktif di kegiatan ekstra kurikuler Pramuka.
Beberapa piala yang dibawa Aryo dan timnya menghantarkan sekolah kami menjadi
juara umum saat perkemahan di tingkat provinsi. Kemampuan kepemimpinan Aryo
cukup baik. Namun sayang selepas SMP, dia tidak mampu menamatkan SMK-nya karena
harus bekerja membantu orang tuanya.
Ani seorang yang pendiam, dia termasuk siswa yang kurang
percaya diri. Kehadirannya yang sering terlambat membuat Ani sering menjadi
bahan olokan teman-temannya. Sering kuajak curhat di ruang BK untuk sekedar
menanyakan apa kendala yang membuat Ani sering terlambat ataupun bertanya
keadaan orang tuanya. Ibu Ani sakit-sakitan, bapak kerja serabutan, tinggal
menumpang di rumah orang. Berkat
dukungan moril dan materil dari segenap guru di SMPN 22 Kota Bengkulu akhirnya Ani
bisa menamatkan SMP-nya dengan baik. Selepas SMP Ani direkomendasikan oleh Ibu
Tresia Lestari, S.Pd.I. (guru Pendidikan Agama yang juga merupakan tetangga Ani)
untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren Al-Karim dengan beasiswa. Sekarang
mendengar cerita kalau Ani sudah kuliah, perasaan bangga dan haru muncul di
hati.
Ada kekhawatiranku terhadap keluarga ini. Beberapa kali sang
bapak datang ke rumah, dengan prolog yang selalu sama ketika membuka
pembicaraan : ”saya ke sini jalan kaki bu”. Entah benar atau tidak, entah hanya
ingin menaruh rasa simpatiku si bapak mengawali setiap ceritanya dengan kalimat
itu. Kubayangkan perjalanan sekitar lima
kilometer yang ditempuh oleh bapak paruh
baya dengan postur tubuh yang kurus. Langsung kusodorkan air mineral yang
tersedia di ruang tamu saat si bapak baru duduk di teras, kuberi kode juga
kepada anak gadis untuk segera membuatkan air kopi untuk si bapak.
“Saya mau nebus obat buat istri saya, bu” ucap si bapak
memulai pembicaraan.
“Oh istri bapak sakit apa, kenapa tidak berobat ke
puskesmas, kan obatnya gratis?”
“Obat puskesmas enggak sembuh-sembuh bu”
‘Ada kerjaan enggak buat saya, bu?” Coba ibu tanya sama
suami ibu ada enggak kerjaan untuk saya.” Saya bisa nggali sumur, bisa nukang,
bisa berkebun bu”.
“Sebentar ya pak saya telpon suami saya dulu”.
Setelah selesai menelpon suami, saya sampaikan pesan dengan
si bapak :
“Besok bapak datang ke kebun kami yang dekat sekolahan ya
pak, tolong bersihkan kebun kami. Ini ongkos buat nanti pulang, ini ongkos
untuk ke kebun besok dan ini uang upah membersihkan kebun. Bapak bawa alat
sendiri dari rumah ya, bapak punya parang dan cangkul, kan?”
“Iya bu terimakasih, besok saya biar pakai sepeda saja ke
kebun ibu” ucap sang bapak sambil mengambil beberapa lembar uang kertas yang
kusodorkan.
Terlihat raut bahagia di wajah yang sudah tidak muda lagi
itu. Ada rasa bahagia ketika membuat orang lain bahagia. Salam buat ibu ya pak,
mudah-mudahan ibu cepat sembuh.
…….
Itulah kedatangan terakhir sang bapak jauh sebelum pandemi
Covid-19 melanda negeri ini. Dan datang lagi ya sore tadi menjelang maghrib di
tengah guyuran hujan.
Ada rasa kesal di hati karena sang bapak telah berbohong.
Janjinya untuk membersihkan kebun tak ditepatinya dan uang upah jatah dua hari
kerja yang sudah dibayarkan di awal tak tahu lagi ceritanya.
Eh tiba-tiba senja
ini beliau nongol.
Jengkel juga kalau ingat kelakuan si bapak, padahal beberapa
kali dia datang ke sini selalu kami sambut dengan baik dan memperlakukannya dengan
layak. Tak lupa pula kutitipkan salam tempel untuk istrinya, namun kenapa bapak
ini tega membohongi kami.
Sebenarnya sudah ada beberapa teman yang menceritakan sikap
si bapak ini, sama seperti yang kualami. Mereka jera membantu si bapak karena
kebiasaan berbohongnya.
Namun setiap kali si bapak bertamu, ada dorongan dalam hati,
siapa tahu dengan keluarga kami si bapak bisa berubah. Ya siapa tahu Allah
menitipkan si bapak kepada kami untuk dibimbing dan dititipi rezeki. Dan
akhirnya omongan dan pengalaman teman-teman aku abaikan.
“Silakan diminum pak, ini cemilannya dibawa pulang saja
untuk ibu” ucapku seraya memasukkan kue semprong ke dalam kantong asoy. “Ini
untuk ongkos pak, salam buat ibu ya pak” ucapku seolah mengusir. Aku tidak mau
bapak ini berlama-lama di rumahku, apalagi nanti kalau dia sudah bercerita.
Yang kutakutkan adalah dengan bapak banyak cerita, akan banyak pula kebohongan
yang ia ucapkan. Ah aku tidak mau membiarkan orang berbohong.
“Iya terimakasih ya bu saya pamit pulang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar