Jumat, 13 November 2020

Cerpen

 Gerimis di Senja Hari

Tok..tok…tok….

Terdengar suara pintu diketuk, namun tanpa ucapan salam. Bergegas adek Bintang keluar…..tak lama berselang, si adek menghampiri bunda yang lagi telponan sama Omcep.

“Enggak tau siapa Nda, bapak2”, ucap Bintang seperti menyampaikan laporan setelah menerima si Bapak dan mempersilakannya untuk duduk di teras.

Bergegas kupakai baju gamis dan jilbab panjang yang sengaja kutarok di dekat pintu samping agar mudah untuk menutup aurat saat keluar ada tamu ataupun saat keluar jika seandainya terjadi situasi darurat seperti gempa bumi. Ya…gempa bumi. Daerah tempat tinggal kami yang berada di patahan sesar mentawai sangat sering terjadi gempa bumi, jadi kami selalu harus siaga bencana.

Saat pintu samping kubuka, dugaanku tidak meleset….Benar yang datang adalah Bapak Aryo. Sudah lama bapak ini tak muncul, alhamdulillah dia datang dalam keadaan sehat.

Segera kuakhiri percakapan telpon dengan adikku dengan alasan ada tamu dan hari menjelang adzan maghrib.

“Apa kabar, Pak?” Sapaku..

“Baik bu, saya jalan kaki dari rumah berangkat jam 5 sore” ucap si bapak sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Iya  pak”, ucapku halus seolah menolak salamannya.

“Aduh pak maaf ya, saya mau sholat maghrib dulu” tolakku untuk mengusir si bapak secara halus. Namun terbersit dalam hati, kasihan sekali bapak ini jalan kaki dari jam 5 sore jauh-jauh dari talang kering datang ke sini masa kutolak mentah-mentah. Tapi saat kuingat kelakuan si bapak yang beberapa waktu lalu telah membohongiku, rasanya mau langsung kuusir si bapak.

Kutinggalkan bapak yang duduk di teras, dengan HP yang masih di genggaman, aku duduk di kursi dekat pintu samping.

“Saya numpang sholat di sini aja, bu” suara si bapak mengagetkanku.

“Aduh pak maaf, suami saya sedang tidak ada di rumah?’ ucapku beralasan.

Masa – masa pandemi Covid-19 ini mengharuskan kita untuk berhati-hati terhadap siapapun karena kita tidak tahu apakah seseorang membawa virus atau berstatus OTG (orang tanpa gejala) apalagi si bapak datang tanpa memakai masker. 

Sejenak kuberpikir, alangkah tidak manusiawinya diriku menolak si bapak untuk menunaikan kewajibannya. Namun aku juga keberatan untuk memasukkan seorang laki-laki ke dalam rumah disaat suami tidak berada di rumah, terlebih di masa pandemi. Mau kuanjurkan untuk ke masjid namun cuaca tidak mendukung karena hujan baru saja mengguyur bumi.

“Ya sudah bu, saya qodho saja nanti dengan sholat Isya”.

Astaqfirullah Ya Allah, berilah hamba-Mu petunjuk, apakah kubiarkan bapak ini menunggu di teras sampai hujan berhenti namun tidak mengerjakan sholat maghrib atau kuizinkan bapak ini masuk ke rumah.

“Kalau bapak mau sholat, silakan di kamar belakang aja pak!”

Bergegas si bapak masuk. Kupersilakan untuk berwudhu di luar, tidak kuizinkan untuk masuk ke kamar mandi karena anak-anak juga mau berwudhu. Kubentangkan sajadah merah di kamar belakang.

Selama si bapak sholat, kupersiapkan cemilan dan air putih, sengaja tak kubuatkan kopi karena aku ingin bapak ini segera pulang.

“Ini pak silakan minum dan ada cemilan, kalau bapak tidak mau makan di sini dibawa pulang saja pak” usirku secara halus.

“Di rumah enggak ada yang makan, bu”

Sontak aku kaget, kupikir apa yang terjadi dengan istri si bapak yang dia ceritakan sedang sakit beberapa waktu lalu.

“Cuma saya dan ibu yang di rumah, si Ani kuliah, Aryo kerja bu” ucap bapak melanjutkan kalimatnya.

Lega hatiku mendengar bahwasannya si ibu baik-baik saja.

“Si Ani sudah kuliah ya pak?”

“Iya bu di sana di madrasah apa itu”

“Oh di STAIN ya pak?”

Ani dan Aryo adalah kakak beradik yang merupakan siswaku. Keadaan ekonomi keluarga yang kurang menguntungkan ditambah dengan kedatangan Ani ke sekolah  yang sering terlambat, membuat aku menaruh perhatian lebih terhadap dua kakak beradik ini.

Aryo sang kakak telah menamatkan sekolahnya terlebih dahulu. Selama di sekolah Aryo banyak aktif di kegiatan ekstra kurikuler Pramuka. Beberapa piala yang dibawa Aryo dan timnya menghantarkan sekolah kami menjadi juara umum saat perkemahan di tingkat provinsi. Kemampuan kepemimpinan Aryo cukup baik. Namun sayang selepas SMP, dia tidak mampu menamatkan SMK-nya karena harus bekerja membantu orang tuanya.

Ani seorang yang pendiam, dia termasuk siswa yang kurang percaya diri. Kehadirannya yang sering terlambat membuat Ani sering menjadi bahan olokan teman-temannya. Sering kuajak curhat di ruang BK untuk sekedar menanyakan apa kendala yang membuat Ani sering terlambat ataupun bertanya keadaan orang tuanya. Ibu Ani sakit-sakitan, bapak kerja serabutan, tinggal menumpang di rumah orang.  Berkat dukungan moril dan materil dari segenap guru di SMPN 22 Kota Bengkulu akhirnya Ani bisa menamatkan SMP-nya dengan baik. Selepas SMP Ani direkomendasikan oleh Ibu Tresia Lestari, S.Pd.I. (guru Pendidikan Agama yang juga merupakan tetangga Ani) untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren Al-Karim dengan beasiswa. Sekarang mendengar cerita kalau Ani sudah kuliah, perasaan bangga dan haru muncul di hati.   

Ada kekhawatiranku terhadap keluarga ini. Beberapa kali sang bapak datang ke rumah, dengan prolog yang selalu sama ketika membuka pembicaraan : ”saya ke sini jalan kaki bu”. Entah benar atau tidak, entah hanya ingin menaruh rasa simpatiku si bapak mengawali setiap ceritanya dengan kalimat itu. Kubayangkan perjalanan  sekitar lima kilometer yang  ditempuh oleh bapak paruh baya dengan postur tubuh yang kurus. Langsung kusodorkan air mineral yang tersedia di ruang tamu saat si bapak baru duduk di teras, kuberi kode juga kepada anak gadis untuk segera membuatkan air kopi untuk si bapak.

“Saya mau nebus obat buat istri saya, bu” ucap si bapak memulai pembicaraan.

“Oh istri bapak sakit apa, kenapa tidak berobat ke puskesmas, kan obatnya gratis?”

“Obat puskesmas enggak sembuh-sembuh bu”

‘Ada kerjaan enggak buat saya, bu?” Coba ibu tanya sama suami ibu ada enggak kerjaan untuk saya.” Saya bisa nggali sumur, bisa nukang, bisa berkebun bu”.

“Sebentar ya pak saya telpon suami saya dulu”.

Setelah selesai menelpon suami, saya sampaikan pesan dengan si bapak :

“Besok bapak datang ke kebun kami yang dekat sekolahan ya pak, tolong bersihkan kebun kami. Ini ongkos buat nanti pulang, ini ongkos untuk ke kebun besok dan ini uang upah membersihkan kebun. Bapak bawa alat sendiri dari rumah ya, bapak punya parang dan cangkul, kan?”

“Iya bu terimakasih, besok saya biar pakai sepeda saja ke kebun ibu” ucap sang bapak sambil mengambil beberapa lembar uang kertas yang kusodorkan.

Terlihat raut bahagia di wajah yang sudah tidak muda lagi itu. Ada rasa bahagia ketika membuat orang lain bahagia. Salam buat ibu ya pak, mudah-mudahan ibu cepat sembuh.

…….

Itulah kedatangan terakhir sang bapak jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Dan datang lagi ya sore tadi menjelang maghrib di tengah guyuran hujan.

Ada rasa kesal di hati karena sang bapak telah berbohong. Janjinya untuk membersihkan kebun tak ditepatinya dan uang upah jatah dua hari kerja yang sudah dibayarkan di awal tak tahu lagi ceritanya.

Eh tiba-tiba  senja ini beliau nongol.

Jengkel juga kalau ingat kelakuan si bapak, padahal beberapa kali dia datang ke sini selalu kami sambut dengan baik dan memperlakukannya dengan layak. Tak lupa pula kutitipkan salam tempel untuk istrinya, namun kenapa bapak ini tega membohongi kami.

Sebenarnya sudah ada beberapa teman yang menceritakan sikap si bapak ini, sama seperti yang kualami. Mereka jera membantu si bapak karena kebiasaan berbohongnya.

Namun setiap kali si bapak bertamu, ada dorongan dalam hati, siapa tahu dengan keluarga kami si bapak bisa berubah. Ya siapa tahu Allah menitipkan si bapak kepada kami untuk dibimbing dan dititipi rezeki. Dan akhirnya omongan dan pengalaman teman-teman aku abaikan.

“Silakan diminum pak, ini cemilannya dibawa pulang saja untuk ibu” ucapku seraya memasukkan kue semprong ke dalam kantong asoy. “Ini untuk ongkos pak, salam buat ibu ya pak” ucapku seolah mengusir. Aku tidak mau bapak ini berlama-lama di rumahku, apalagi nanti kalau dia sudah bercerita. Yang kutakutkan adalah dengan bapak banyak cerita, akan banyak pula kebohongan yang ia ucapkan. Ah aku tidak mau membiarkan orang berbohong.

“Iya terimakasih ya bu saya pamit pulang”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar